Monday, May 28, 2012

Islam Dan Melayu Sambas



  KalimantanBarat merupakan salah satu provinsi yang terdapat di pulau Kalimantan, bagian Indonesia. Bagian barat provinsi ini berbatasan dengan Laut Cina Selatan, Bagian Timur berbatasan dengan Kalimantan Timur, bagian Tenggara berbatasan dengan Kalimantan Tengah, bagian Utara berbatasan dengan Sarawak (Malaysia Timur), dan bagian selatan berbatasan dengan Laut Jawa.
Kalimantan Barat memiliki kawasan yang luasnya 146,807km2 atau 7.65 dari luas keseluruhan kawasan Indonesia.
Secara geografi, posisi itu menempatkan Kalimantan Barat pada posisi strategis, jelasnya berada pada jalur perdagangan laut Cina Selatan dan terlibat dalam arus sejarah Melayu sejak lama (Arena Wati [1989],Irwin [1986],Hooker [1991] Mohd.Shaghir [1988],serta Yusriadi [1999]. Lalulintas perairan itu tidak hanya melibatkan aktivitas perdagangan tetapi juga persebaran Intelektual, budaya termasuk Agama. Sekarang, Islam telah menjadi salah satu karakteristik  utama kemelayuan di Sambas Bakran Suni[2007]. Berbeda dengan sejarah awal, pada masa kini di Sambas dan bahkan di Kalimantan Barat secara umum, Isllam telah menjadi bagian dari identitas Melayu. Dengan kata lain Melayu identik dengan Islam.
Sebelum islam datang, Sambas sudah terlebih dahulu di pengaruhi oleh Hindu. Tercatat kerajaan Hindu Majapahit pernah memberikan pengaruh terhadap kerajan Sambas. Sejauh pengetahuan peneliti informaasi terawal Islam datang pertama kali ke Sambas pada awal abad ke-15 di bawa oleh orang Cina. Menurut itu pada tahun 1407, di Sambas didirikan Muslim/Hanafi- sebuah komunitas Cina2. Kemudian pada tahun 14632 Laksamana Cheng Ho yang terkenal itu, atas perintah Kaisar Cheng Tsu atau Jung Lo ( Kaisar ke-4 Dinasti Ming)selama tujuh kali memimpin ekspidisi ke Nan Yang. Beberapa anak buahnya ada yang kemudian menetap di Kalimantan Barat dan membaur dengan masyarakat setempat. Mereka juga membawa ajaran islam yang mereka anut (http:students.ukdw.ac.id). bagaimana proses muslim di Kalimantan Barat, Khususnya di Sambas.
Informasi yang agak jelas adalah tentang keberadaan islam di kawasan pantai Barat Kalimantan Barat ketika berdiri kerajaan Islam Sambas, kerajaan ini didirikan oleh Raden Sulaiman (1009-1081H/1601-1670) (Pabali 2003;1) pada awal abad ke-17 Veth (1854),Irwin(1983:3)dan Bakran(2007) mencatat satu abad lebih awal. Kerajaan inilah antara lain yang memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam di Kalimantan Barat, Khususnya di Sambas.
Raden Sulaiman adalah putra Raja Tengah dari Brunei Darussalam yang memerintah negri Sarawak. Sedangkan Raja Tenagah adalah putra ke-2 dari Sultan Brunei ke-9 Muhammad Hasan yang memerintah pada tahun 1582-1598(Haji Md Zain 1998:3;Pabali 2003:2;Djarni 2007)4.
Proses islamisasi kerajan Hindu menjadi kerajaan Islam Sambas di mulai dari kedatangan Raja Tengah ke Sambas. Raja Tengah adalah saudara Sultan Abdul Jalil Akbar dari Brunei. Ketika sudah cukup dewasa Raja Tengah diberi kepercayaan untuk memerintah Negri Sarawak. Raja Tengah terkenal gagah berani  dalam memperluas kekuasaannya. Selain itu, beliau juga sangat gigih dalam menyebarkan agama Islam. Tidak lama kemudian setelah memerintah negri Sarawak, baginda mengunjungi negri Johor menggunakan beberapa buah zeilschoener (perahu layar zekuar). Kepergian itu di maksudkan untuk menziarahi ibu muda baginda, yaitu permaisuri Sultan Abdul jalil. Setelah kurang lebih dua tahun di Johor, baginda kembali ke Sarawak, namun di tengah perjalanan pulang tersebut, perahu baginda diterpa angin  kencang sehingga terdampar di Sukadana.
Pada masa itu yang memerintah Sukadana adalah Panembahan Giri Mustika yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Tsafiuddin. Kedatangan Raja Tengah ke Sukadana disambut baik oleh Panembahan Sukadana. Bahkan kemudian Raja Tengah di angkat menjadi Wazir kerajaan. Raja tengah di tugaskan untuk menangani hal-hal yang berhubungan dengan Agama. Dalam pada itu, Raja Tengah ketika ada kesempatan memperdalam ilmu Agama, beliau selalu menambah wawasannya seperti kepada seeseorang guru agama yang bernama Syekh Syamsuddin yang datang dari Mekkah ke Sukadana.
Keluhuran budi dan kemampuan menangani berbagai masalah yang di percayakan kepada Raja Tengah, menarik simpati Panembahan. Pada akhirnya,  Raja Tengah di nikahkan dengan adik baginda Panembahan yang bernama Ratu Suria Kusuma. Dari perkawinan itu Raja Tengah mendapat tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.
Setelah beberapa lama di Sukadana, Raja Tengah berniat untuk mengunjungi Sambas. Ibukota Sambas pada saat itu terletak di Kota Lama. Keinginan untuk mengunjungi Sambas di dorong oleh cerita ibu muda Sultan yang berada di Johor. Ketika di Johor, ibu muda Sultan menceritakan bahwa Sambas adalah salah satu kekuasaan Johor yang kaya dengan emas. Setiap tahun negri Sambas mempersembahkan emas dan Jamur kerang. Penguasa Sambas ketika itu adalah seorang Ratu yang bernama Ratu Sepudak yang beragama Hindu.
Kehadiran Raja Tengah ini di sambut dengan baik oleh Ratu Sepudak yang memerintah Sambas pada waktu itu. Karena hubungan yang baik antara Raja Tengah dengan Ratu Sepudak di pererat lagi dengan pernikahan putra sulung Raja Tengah yaitu Raden Sulaiman dengan putrid bungsu Ratu Sepudak yakni Mas Ayu Bungsu.
Tidak lama setelah Raja Tengah sampai ke Sambas, Ratu Sepudak pun wafat. Sebagai penggantinya di angkatlah Pangeran Prabu Kencana, setelah itu di nobatkan Pangeran Prabu Kencana bergelar Ratu Anom Kesuma Yudha. Pangeran Prabu Kencana adalah kemanakan sekaligus menantu Raja Sepudak. Selama di Sambas Raja Tengah di ceritakan sangat giat dalam menyebarkan agama Islam, sehingga dalam waktu yang singkat relatif banyak pemeluk agama Islam di Sambas. Namun tidak lama setelah kelahiran cucunya yang pertama yaitu Raden Bima, Raja Tengah kembali ke negri asalnya Sarawak.
Beberapa tahun setelah penobatan Ratu Anom Kesuma Yudha, terjadi perselisihan Pangeran Ario Mangkurat dengan Raden Sulaiman dalam hal agama yang tidak lain adalah iparnya. Pangeran Ario Mengkurat yang merupakan adik kandung Ratu Anom adalah wazir kerajaan. Untuk menghindari perselisihan yang lebih besar dan menghindari pertumpahan darah akhirnya Raden Sulaiman dak keluarga beserta pengikutnya pindah dari Kota lama ke suatu tempat yang merupakan pertemuan tiga sungai yaitu sungai Sambas kecil, sungai Sabah, dan Sungai Teberau yang di sebut muara Ulakan. Di tempat yang baru itu Raden Sulaiman membangun rumah untuk keluarganya, dan tempat itulah kelak sampai hari ini menjadi pusat pemerintahan kerajaan Islam Sambas. Sejak saat itu tersebar berita kepindahan Raden Sulaiman ke tempat baru. Dalam waktu yang tidak terlalu lama para pengikut Raden Sulaiman pun berduyun-duyun membuat pemukiman di tempat yang baru tersebut. Setelah beberapa lama, Raden Sulaiman di nobatkan sebagai Sultan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin I. saudara baginda yang bernama Raden Abdul Wahab dan Raden Badarrudin di angkat menjadi wazir. Raden Abdul Wahab mendapat gelar Pangeran Bendahara Sri Maharaja dan Raden Badaruddin memperoleh gelar Pangeran Temenggung Jaya Kesuma. Sejak saat itulah Islam di Sambas semakin menguat baik dari sisi jumlah pengikutnya maupun kualitasnya. Suasana kerajaan ini memungkinkan untuk lebih meningkatkan penyebaran dan pengajaran Islam baik dikalangan istana maupun rakyat biasa. Dari kerajaan ini pulalah kelakk mendorong didirikan beberapa madrasah.


Mesjid Keraton Sambas
Bangunan Mesjid yang megah dan bersejarah ini mempunyai arti dan simbolik Sultan Muhammad Syafiuddin II dan Sultan yang memerintah di kerajaan Sambas. Jumlah tiang tengah dalam mesjid Jami’ berjumlah delapan Batang yang bermakna pendirinya adalah Sultan ke-8 atau Sultan ke-14 garis kesultanan kerajaan Sambas.
Atap mesjid bertingkat tiga. Pondopo serambi masuk yang terletak di bagian utara. Modal pertama bangunan mesjid berasal dari rumah kediaman keluarga Sultan Umar Akamuddin III di Desa Tanjung Rengas. Kini sudah 100 tahun lebih usia mesjid Jami’ Sambas dan tetap berdiri megah karena adanya panitia pemeliharaan masyarakat.
Mesjid berlantai dua ini, di dalamnya merupakan  bundaran artistik dari kayu belian. Sebuah mimbar Khutbah kecil ini terdapat di bagian depan ruang mesjid. Dahulu terdapat sebuah bedug besar di Mesjid sebagai alat pemberitahuan Sholat. Setelah di gunakan alat pengeras suara untuk azan dan didalam mesjid, maka bedug tidak lagi di gunakan. Mimbar antic untuk khatib berkhutbah dari kayu berwarna merah ukiran keemasan kabarnya bersal dari Palembang. Di persembahkan para pelaut dan pedagang kepada Sultan.
Di dalam mesjid terdapat pula sebuah bendi atau bejana besar dari keramik, di sudut belakang mesjid. Dahulu di pergunakan untuk menampung air bersih untuk wudlhu. Konon bendi kuno itu adalah hadiah dari Sultan Brunei Sultan Muhyiddin kepada Sultan Muhammad Tajuddin I ketika berkunjung ke Brunei dan dilantik sebagai Sultan Anom. Pada bagian luar atas migrab mesjid tergantung sebuah papan tertulis ayat suci Al-qur’an yang berbunyi “Innama ya’muru masajidallahu man ammana billah wal yaumil akhir” yang artinya : Hanya orang-orang yang memakmurkan mesjid Allah adalah orang-orang yang beriman dengan Allah dan hari akhir.
Pada perkembangannya, Islam di Sambas begitu mengakar. Bahkan kawasan ini pernah mendapat gelar “ Serambi Mekkah” atau “ Serambi  Mesir”. Hampir setiap kampung di Sambas memiliki Tuan Guru atau orang yang terkenal arif dalam ilmu agama. Beberapa diantaranya pernah belajar dan mukim dalam waktu yang relatif lama di Timur Tengah terutama di Mekkah dan Madinah serta Mesir (lihat Erwin 2007). Usaha meningkatkan dakwah Islamiyah dii Sambas didukung sepenuhnya oleh pihak istana. Tercatat bahwa jumlah anak-anakmuda dikirim ke Timur Tengah atas usaha Sultan Sambas . anak-anak muda inilah yang kelak menjadi pemimpin agama di Sambas. Peran mereka sengat central dalam membentuk jati diri kemelayuan Sambas.
Pada tahap awal memang masih nampak wujud warisan tradisi dalam masyarakat melayu, termasuk yang bertentangan dengan Islam. Wujudnya tradisi lokal dalam masyarakat Islam Sambas tidak terlepas dari cara-cara penyebaran Islam yang toleran dan ramah terhadap budaya lokal, sebagaimana umumnya penyebaran Islam di Nusantara , watak islam yang ramah dan toleran itu memungkinkan Islam di terima secara spektakuler di Sambas.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama Sambas yang dulunya di kuasai oleh kerajaan Hindu berubah menjadi kerajaan Islam. Namun sejalan dengan semakin banyaknya orang Sambas yang terdidik secara baik dalam bidang agama dan terjadi proses Modernisasi, tradisi yang bertentangan dengan islam secara perlahan mulai di tinggalkan walaupun tidak sepenuhnya. Sementara warisan tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam di teruskan dan di pelihara bahkan di perkaya dengan unsur-unsur Islam. Oleh karena itu, sekarang dapat disaksikan bahwa kehidupan masyarakat Melayu Sambas sangat kaya dengan adat istiadat.
Berdasarkan sejarah diatas mengenai hubungan islam dan melayu pada masyarakat Sambas dapat di nyatakan bahwa islam menjadi cirri kemelayuan terjadi sejak proses Islamisasi di Sambas yakni ketika Raja Tengah datang dan menyebarkan agama Islam pada akhir abad ke-16. Ciri islam ini semakin kuat ketika Raden Sulaiman, putra Raja Tengah, pindah dan mendirikan kerajaan Sambas yang bercorak Islam. Namun begitu, sebagaimana sudah di ungkapkan berdasarkan teori bahasa bahwa keberadaan orang melayu yang tidak islam sudah sejak migrasi purba bangsa Austronesia ke bagian Barat Kalimantan yang terjadi sejak tahun 2.500 atau 1.000 sebelum masehi.

Post a Comment