Monday, January 23, 2012

Melayu Di Sambas




   
















  Sejarah melayu di sambas sangat berkaitan dengan sejarah manusia penghuni pulau Kalimantan. Para ilmuan  percaya bahwa manusia sudah menempati pulau Kalimantan sekurang-kurangnya sejak 40,000 tahun yang lalu. Bangsa Austroloid yang pertama mungkin telah mencapai pulau ini selama tempo interglacial  dalam masa Pleistosen. Mereka melakukan perjalanan melalui jembatan-jembatan daratan yang kering  yang menghubungkan pulau Sunda Besar dengan daratan Asia (Mc.Kinnon et al.2000). menurut Harrison (1959), Niah di Sarawak merupakan pemukiman manusia sejak 40.000-20.000 tahun yang lalu.
Sedangkan menurut Bellwood (1984,19880) sekurang-kurangnya 28.000 tahun yang lalu orang menggunakan goad dan liang di Madai dan Baturong Sabah, dan kemudian membangun pemukiman ditepi-tepi danau , memburu binatang dan mengumpulkan kerang-kerangan. Teknik pertanian masuk ke pulau ini pada masa Neolitik yang dibawa oleh gelombang migran yaitu bangsa-bangsa Mongoloid kira-kira 5.000 tahun yang lalu(Glover 1979). Besi mulai dikenal di pulau Kalimantan antara abad ke-5 dan ke-9 Masehi (Sellato,1994).
       Hubungan dengan Cina sudah berlangsung sejak lama, dan kemungkina bermula sejak abad  ke-3 sebelum Masehi. Terdapat beberapa bukti di dalam sejarah dinasti cina berhubungan dengan hal ini. Diantara tahun 600 dan 1500 Masehi ada beberapa lawatan ke negri cina yang dilakukan oleh duta-duta dari ‘Po-lo, p’oli, Poni, Ye-Po-Ti, dan sebagainya, nama-nama yang ada pada umumnya telah di terima sebagai tempat-tempat yang terdapat di pantai Barat Kalimantan. Dipercayai sejak turun-temurun bahwa perkampungan orang cina pernah terdapat berdekatan dengan Sungai Kinabatangan di bagian utara pulau itu (Irwin 1986;Groneveldt 1887 dan Hughes-Hallet 1940).
          Peninggalan Hindu di pahat pada abad ke-4 telah ditemukan di pantai timur pulau ini dan kerajaan-kerajaan kecil Hindu berkembang di kawasan pantai pulau ini(Irwin 1986;Sellato 1994). Pengaruh pulau jawa terhadap kerajaan-kerajaan kecil ini terasa sejak abad ke-14 terutama di kawasan Timur. Islam mencapai pulau ini melalui pulau semenanjung Melayu selama abad ke-13, dan kemudian pada abad ke-15 atau 16 kerajaan Hindu digantikan oleh kesultanan Islam : Brunei di utara, Sambas,Landak, dan Sukadana di Barat, Kutai dan lainnya di Timur,serta Banjarmasin di selatan (Sellato 1994). Namun ketika itu baik pengaruh Hindu maupun Islam kurang terasa di perdalaman Pulau Kalimantan. Pengaruh Islam menguat di kawasan pedalaman pulau ini sejak abad ke-18.
          Orang eropa yang pertama kali berhubungan dengan pulau Kalimantan pada awal abad ke-16 melalui hubungan dagang (Logan 1848, Hall 1971). Tiga abad berikutnya, yaitu abad ke-19, Inggris dan Belanda  baru secara efektif menguasai pulau Kalimantan (Sellato 1994, lihat juga Layden 1837). Sementara bagian tengah (pedalaman) pulau Kalimantan baru dapat di kontrol sepenuhnya oleh kekuasaan Kolonial pada abad ke-19. Jepang berkuasa hanya antara tahun 1942-1945. Setelah pergolakan Fase perang dunia ke-2, tidak begitu terasa di pedalaman, pada tahun 1945 bagian selatan Pulau Kalimantan menjadi bagian Republik Indonesia. Pada tahun 1963 Sabah dan Serawak bergabung dengan persekutuan tanah Melayu untuk membentuk Malaysia; dan pada tahun 1984 Brunei mendapatkan Kemerdekaannya.
Post a Comment