Tuesday, April 14, 2015

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGUE HEMORHAGIC FEVER (DHF)

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGUE HEMORHAGIC FEVER (DHF)

 

1.         DEFINISI
Dengue Hemorhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan syock, nyeri otot dan sendi dan kematian (Cristianti,1995). Penyakit ini ditularkan lewat nyamuk Aides aegepty yang menbawa virus dengue (antropad bone virus) atau disebut arbo virus.


2.         PEMBAGIAN DHF
WHO (1975) membagi DBD menjadi 4 :
1)        Derajat 1:
Derajat satu bisanya ditandai dengan demam mendadak 2-7 hari disertai dengan gejala tidak khas dan manifestasi perdarahan yang dapat diuji tourniquet positif.

2)        Derajat 2
Derajat 1 disertai dengan perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain.

3)        Derajat 3
Derajat 2 ditambah dengan kegagalan sirkulasi ringan, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg), hipotensi (systole < 80 mmHg) disertai kulit yang dingin,lembab dan penderita menjadi gelisah.

4)        Derajat 4
Derajat 3 ditambah syok berat dengan nadi yang takteraba dan tekanan darah yang tak dapat diukur, dapat disertai dengan penurunan kesadaran, sianotik dan asidosis.
Derajat 1 dan 2 disebut DHF tanpa renjatan,sedang 3 dan 4 disebut DHF dengan renjatan atau DSS.


3.         PATOFISIOLOGI
Yang menentukan berat penyakit adalah :
o   Meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah
o   Menurunnya volume plasma darah
o   Adanya hipotensi
o   Trombositopeni
o   Diatesis hemoraghik.
Pada penderita DHF terdapat kerusakan sistem vaskuler dengan adanya peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah terhadap protein plasma dan efusi pada ruang serosa dibawah peritoneal, pericardial dan pleural. Pada kasus berat, pengurangan plasma sampai 30 % lebih. Menghilangnya plasma melalui endotel ditandai oleh peningtkatan nilai hematokret yang dapat menyebabkan keadaan hipovolemi dan syok sehingga dapat menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolic dan bahkan sampai terjadi kematian.
Sebab lain perdarahan adalah trombositopeni serta faktor kapiler. Pada fagosit  didapatkan fagositosis dan proliferasi sistem retikulo endothelial yang menyebabkan penghancuran terhadap trombosit yang telah mengalami metamorfosis seluler sehingga tampak adanya trombositopeni.


Patofisiologi
Virus dengue

Proliferasi dan transformasilimfosit imun dalam tubuh
 

Replikasi virus dalam limfosit
 

Aktifasi sistem komplemen
 


Sel fagosit mononukleus Makrofag, histiosit, sel Cutfer tempat tjd infeksi virus
Non neutralizing antibody virus dengue melekat pd sel fagosit mono nuklues
virus bereplikasi dalam se fagosit mono nucleus

                                                                                                            aktifasi Fakt.XII
 

fungsi agregasi trombosit        pelepasan anafilaktoxin histamin
          menurun                                         serotonin
                                                                                                sist.kinin terangsanng
 

megakariosit meningkat          permeabilitas kapiler meningkat
 


umur trombosit menurun         ekstravasasi cairan intravaskuler
                                                            ke ektravaskuler
 


trombositopeni                        volume plasma menurun
 


    pedarahan                            hipotensi,hemokonsentrasi,hipo
                                                proteinemia,efusi dan renjatan

resiko syok hipovolemi           anoksia jaringan ,asidosis metb


4.         PEMERIKSAAN LABORAT
o           Hemokonsentrasi yaitu terjadi peningkatan nilai hematokrit > 20 %. Meningginya hematokrit sangat berhubungan dengan beratnya renjatan. Hemokonsentrasi selalu mendahului perubahan tekanan  darah dan nadi, oleh kerena itu pemeriksan hematokrit secara berkala dapat menentukan sat yang tepat penghentian pemberian cairan atau darah.
o           Trombositopenia, akan terjadi penurunan trombosit sampai dibawah 100.000 mm3
o            sediaan hapusan darah tepi, terdapat fragmentosit, yang  menandakan terjadinya hemolisis
o           Sumsum tulang, terdapatnya hipoplasi sistem eritropoetik disertai hiperplasi sistem RE dan terdapatnya makrofag dengan fagositosis dari bermacam jenis sel
o           Elektrolit, : hiponatremi (135 mEq/l). terjadi hiponatremi karena adanya kebocoran plasma,anoreksia, keluarnya keringat, muntah dan intake yang kurang
o           Hiperkalemi , asidosis metabolic
o           Tekanan onkotik koloid menurun, protein plasma menurun,
o           Serum transaminasi meningkat.

5.         PENGOBATAN
Pengobatan pada penderita DHF sebenarnya bersifat symptomatic dan supportif
o           Pada anak yang hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diberikan antipiretik dan kompres dingin atau alcohol 70%
o           Kejang yang mungkin timbul diatasi dengan pemberian anti convulsan : anak > 1 tahun diberikan luminal 75 mg dan anak dibawah 1 th diberikan 50 mg IM. Bila dalam waktu 15 menit kejang tidak berhenti pemberian luminal diulang dengan dosis 3 mg/kg BB/hari atau anak umur > 1 th diberikan 50 mg sedang anak <1 th diberikan 30 mg dengan memperhatikan adanya depresi fungsi vital (pernafasan dan jantung).
o           Pemberian Inta Venous Fluid Drip (IVFD). Pada pemberian cairan perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:
Sebagai pedomannya : Kebutuhan cairan/hari sesuai BB
BB                         Hari I                           Hari II             Hari III
<7 Kg                    220 ml                         165 ml                         132 ml
7-11 Kg                 165 ml                         132 ml                         88 ml
11-18 Kg               132 ml                         88 ml                           88 ml
>18 Kg                  88 ml                           88 ml                           88 ml


PENGKAJIAN KEPERAWATAN
A.               IDENTITAS
DHF dapat terjadi pada siapa saja dari anak-anak sampai orang dewasa dan pada semua jenis kelamin, kebanyakan penyakit ini ditemukan pada anak perempuan daripada anak laki-laki (Rampengan, 1997). Tempat atau daerah yang bisa terjangkit adalah disemua tempat baik dikota ataupun didesa, biasanya nyamuk pembawa vector banyak ditemukan pada daerah yang banyak genangan air atau didaerah yang lembab.

B.               RIWAYAT KEPERAWATAN
1.         Keluhan Utama :
Biasanya pasien datang dengan keluhan demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari, terdapat petechie pada seluruh kulit, perdarahan gusi, neyri epigastrium, epistaksis, nyeri pada sendi-sendi.

2.         Riwayat Penyakit Sekarang
Sering menunjukan sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, panas, sakit saat menelan, lemah, nyeri uluhati(epigastrium), mual, muntah, nafsu makan menurun.

3.         Riwayat Penyakit Dahulu
Ada kemungkinan anak yang telah terinfeksi penyakit DHf bisa terulang terjangkit DHF lagi, tetapi penyakit ini tak ada hubungan dengan penyakit yang perna  diderita dahulu.

4.         Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit DHF dibawah oleh nyamuk jadi bila terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit ini  dalam satu rumah besar kemungkinan tertular karena penyakit ini ditularkan lewat gigitan nyamuk.

5.         Riwayat Kesehatan Lingkungan
Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat tinggal nyamuk ini adalah lingkungan yang kurang pencahayaan dan sinar matahari, banyak genangan air, vas bunga yang jarang diganti airnya, kaleng bekas tempat penampungan air, botol dan ban bekas. Tempat –tempat seperti ini biasanya banyak dibuat sarang nyamuk Janis ini. Perlu ditanyakan pula apakah didaerah itu ada riwayat wabah DHF karena inipun juga dapat terulang kapan-kapan.

6.         Riwayat Tumbuh Kembang
Tahap tumbuh kembang anak usia sekolah : 6 – 12 tahun
o   Tahap pertumbuhan
Berat badan pada usia sekolah sebagai pedomannya adalah :
 



Tinggi badan :  Umur (tahun) x 6 x 7

o   Tahap perkembangan
Anak usia 5-6  tahun
a.       menangkap bola kasti pada jarak 1 meter (MK)
b.      membuat gambar segi 4 (MH)
c.       Mengenal angka dan huruf serta berhitung (BBK)
d.      Berpakaian sendiri tanpa dibantu (BM)

Tahap perkembangan Psikosexual menurut Sigmund Freud :
Fase laten (5-12 tahun )
a.       anak masuk kepermulaan fase pubertas
b.      periode integrasi, dimana anak harus berhadapan dengan barbagai tuntutan sosial, belajar disekolah, hubungan kelompok.
c.       Fase tenang
d.      Dorongan libido mereda sementara
e.       Zone erotik berkurang
f.       Anak tertarik dengan kelompok sebaya

Fase Idustri Vs Inferiority ( 6-12 tahun )
Berfokus pada hasil akhir suatu pencapaian (prestasi/achievment). Anak memperoleh kesenangan dari penyelesaian tugas / pekerjaan dan menerima penghargaan untuk usaha/kepandaiannya. Jika anak tidak mendapat penerimaan dari teman sebayanya  atau tidak dapat memenuhi harapan orang tuanya mka ia akan merasa rendah diri, kurang menghargai dirinya untuk dapat berkembang. Jadi focus pada anak sekolah adalah pada hasil prestasinya, pengakuan dan pujian dari keluarganya, teman dan gurunya.



7.         Pemeriksaan Fisik (persistem)
o   Sistem pernafasan
Bila gejala telah lanjut klien mengeluh sesak nafas, pernafasan dangkal, cepat, perdarahan melaui hidung.
o   Sistem persyarafan
Kondisi lanjut bisa terjadi penurunan kesadaran, gelisah, kejang.
o   Sistem kardiovaskuler
Perdarahan pada kulit, hidung, gusi, hematemesis dan atau melena,
Tachicardia,trombositopeni, leukopenia, hipotensi, syok, mengeluh akral dingin
Hemokonsentrasi ( peningkatan nilai hematokret > 20 % ), pusing.
o   Sistem pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan dalam menelan, kembung, nyeri tekan pada epigastrik, nafsu makan menurun, mual muntah, pembesaran limpa, pembesaran hati, abdomen tegang.
o   Sistem muskuloskeletal
Nyeri otot / sendi, kelemahan, penurunan aktifitas.
o   Sistem urinary
Anuri / disuri, peningkatan Bj plasma
o   Sistem integumen
Kulit kering, turgor menurun, panas / kedinginan

C.               DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.         Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi penyakit.
2.         Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah, anoreksia, nyeri telan
3.         Gangguan rasa nyaman nyeri epigastria berhubungan dengan proses inflamasi
4.         Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan perpindahan cairan divaskuler
5.         Potensial terjadi perdarahan ulang berhubungan dengan trombositopeni.


D.               INTERVENSI KEPERAWATAN
1.         Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi    penyakit (viremia).

Tujuan : Suhu tubuh normal (36-370 c)
              Klien bebas demam.

Intervensi :
  1. Kaji saat timbulnya demam
R/ Dapat didentifikasi pola/ tingkat  demam
  1. Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tensi, pernafasan setiap 3 jam
R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum kien
  1. Berikan penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh
R/ Penjelasan tentang kondisi yang dialamai k;ein dapat membantu mengurangi kecemasan klien
  1. Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang hal-hal yang dilakukan
R/ Untuk mengatasi demam dan menganjurkan klien dan keluarga untuk lebioh kooperatif
  1. Jelaskan pentingnya tirah baring bagi klien dan akibatnya jika hal tersebut tidak dilakukan
R/ Keterlibatan keluarga sangat berarti dalam proses penyembuhan klien di rumah sakit
  1. Anjurkan klien untuk banyak minum kurang lebih 2,5-3 liter/hari dan jelaskan manfaatnya
R/ Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh meningkat sehingga perlu diimabngi dengan asupan cairan yang banyak
  1. Berikan kompres dingin (pada axila dan lipat paha) dan anjurkan memakai pakaian yang tipis
R/ Kompres dingin akan dapat membantu menurunkan suhu tubuh, pakaian tipis akan dapat membantu meningkatkan penguapan panas tubuh
  1. Berikan terapi (antipiretik) sesuai dengan program dokter
R/ Antipiretika yang mempunyai reseptor di hypothalamus dapat meregulasi suhu tubuh sehingga suhu tubuh diupayakan mendekati suhu normal.



2.         Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia dan sakit saat menelan

Tujuan
Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, klien mampu menghabiskan makanan yang telah disediakan

Intervensi
  1. kaji faktor – faktor penyebab
R/ penentuan faktor penyebab, akan menentukan intervensi/tindakan selanjutnya
  1. jelaskan pentingnya nutrisi yang cukup
R/ meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga sehingga klien termotivasi untuk mengkonsumsi makanan
  1. anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil dan sering, jika tidak muntah teruskan (15-30 cc setiap ½ -1jam )
R/ menghindari mual muntah dan distensi perut yang berlebihan
  1. lakukan perawatan mulut yang baik setelah muntah
R/ baun yang tidak enak pada mulut meningkatkan kemungkinan muntah
  1. ukur berat badan setiap hari
R/ berat badan merupakan indicator terpenuhi tidaknya kebutuhan nutrisi
  1. catat jumlah porsi yang dihabiskan klien
R/ mengetahui jumlah asupan / pemenuhan nutisi klien.



3.         Resiko terjadi perdarahan ulang berhubungan dengan trombositopeni.

Tujuan : tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut, jumlah trombosit meningkat ( dalam batas normal)

Intervensi :
1.      pantau tanda – tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda klinis
R/ penurunan jumlah trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis berupa perdarahan nyata seperti epistaksis, petechie, perdarahan gusi
2.      memberikan penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada klien
R/ pengetahuan yang baik dari lkien dan keluarga tentang tanda dan gejala dapat membantu menngantisipasi terjadinya perdarahan karena trombositopeni
3.      menganjurkan klien untuk banyak istirahat
R/ aktifitas yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan
4.      memberikan penjelasan klien dan kleuarga untu melaporkan bila terjadi perdarahan
R/ keterlibatan keluarga akan membantu penanganan sedini mungkin
5.      kolaborasi pemberian obat obatan, berikan penjelasan tentang manfaat obat
R/ dengan mengetahui obat yang diminum dan manfatanya , diharapkan klien dan keluarga termotivasi untk meminum obat yang diberikan.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenitto,Lj. 2001, Diagnosa Keperawatan. Ed 6. EGC. Jakarta.

Effendi, C.1995. Perawatan klien DHF. EGC. Jakarta.

Ngatiyah. 1997.  Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta.

Rampengan,TH & laurentz,LR 1997. Penyakit infeksi tropik pada Anak. EGC . Jakarta

Tim pengajar perawtan Anak. 1999. Diktat Kuliah PSIK Perawatan Anak. 
Post a Comment